|
SEJARAH YANG BERKAITAN DENGAN TANAH BETAWI | |
Ketika Presiden Soeharto meresmikan Perumnas tahun 1976, penduduknya tidak lebih 100 ribu jiwa. Kala itu, ia hanya merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor. Hubungan ke Jakarta masih sulit. Jalan raya ke Pasar Minggu hanya satu jalur.
Kini Depok yang jadi kotamadya sejak 1999, penduduknya melonjak lebih dari 10 kali lipat. Berpenduduk 1.335.734 jiwa, ia sudah dikatagorikan sebagai kota besar. Laju penduduk masih terus melejit. Kini belasan perusahan real estat dengan penuh gairah tengah membangun ribuan rumah di Depok. Hingga hampir tidak tersisa lagi lahan persawahan dan perkebunan. Bahkan sejumlah situ ikut menciut, tergusur dan menghilang samasekali. Jadi hutan beton.
Penduduk Depok pernah disebut Belanda Depok. Anak-anaknya mendapat julukan sinyo, panggilan untuk anak Belanda. Sebutan ini tidak dapat dipisahkan dengan sejarah awal abad ke-18. Ketika 1714 Cornelis Chastelein, petinggi VOC dan tuan tanah Depok meninggal dunia dengan meninggalkan wasiat. Menghibahkan tanah Depok seluas 1.224 hektar pada para budaknya setelah lebih dulu mereka menukar agama jadi Kristen Protestan.
Keturunan para budak inilah yang dapat kita jumpai di Depok Lama dijuluki Belanda Depok. Julukan ini tidak menyenangkan mereka, karena dianggap antek Belanda. Tapi mereka tidak tersinggung disebut keturunan budak, karena kenyataan demikian. Lalu ada sejarawan Belanda menulis bahwa nama Depok berasal pada masa Cornelis Chastelein. H Nawawi Napih, penduduk Depok yang sejak 1991 mengadakan penelitian membantah Depok baru dikenal sejak masa Cornelis Chastelein membangun perkebunan di sini. Pendapatnya yang sama dikemukakan H Baharuddin Ibrahim dkk dalam buku 'Meluruskan Sejarah Depok'.
Karena sebelum Chastelein membeli tanah Depok, nama kota ini telah ada. Mereka mengutip cerita Abraham van Riebeeck ketika pada 1703, 1704, dan 1709 selaku inspektur jenderal VOC mengadakan ekspedisi menelusuri sungai Ciliwung. Melalui rute: Benteng (Batavia) - Cililitan - Tanjung (Tanjung Barat) - Seringsing (Serengseng) - Pondok Cina - DEPOK - Pondok Pucung (Terong). Tapi ada beda pendapat tentang Sejarah Depok yang disusun H Nawawi Napih dan H Baharuddin Ibrahim.
Napih, yang mendapat keterangan berdasarkan cerita MW Bakas, salah seorang keturunan asli Depok yang mengatakan, waktu perang antara Pajajaran dengan Banten-Cirebon (Islam) tentara Pajajaran membangun padepokan untuk melatih para prajuritnya dalam mempertahankan kerajaan. Padepokan ini dibangun dekat Sungai Ciliwung. Terletak antara pusat kerajaan Pajajaran (Bogor) dan Sunda Kelapa (Jakarta). Perkembangan selanjutnya padepokan ini disebut Depok sesuai lidah melayu.
Pendapat ini dengan alasan di sekitar Depok terdapat nama-nama kampung menggunakan bahasa Sunda. Seperti Parung Blimbing (di Depok Lama) di selatan, Parung Malela di utara dan Kampung Parung Serab di sebelah timur seberang Ciliwung berhadapan dengan Parung Belimbing. Semua kampung ini terletak di tepi kali Ciliwung. Kemungkinan kampung-kampung itu pada waktu perang dijadikan basis pertahanan tentara Pajajaran terhadap kemungkinan serangan Cirebon dan Banten ke pusat pemerintahan di Bogor melalui Kali Ciliwung. Kemungkinan lain sebagai basis pertahanan untuk menyerang Sunda Kelapa.
Sedangkan menurut ''Sejarah Singkat Kota Depok'' dinyatakan antara Perumnas Depok I dan Depok Utara terdapat tempat yang disebut Kramat Beji. Di sekitarnya terdapat 7 buah sumur berdiameter satu meter. Di bawah pohon beringin yang berada di antara ke 7 sumur terdapat sebuah bangunan kecil yang selalu terkunci. Di dalam bangunan yang masih dapat kita jumpai terdapat banyak sekali senjata kuno, seperti keris, tombak dan golok. Menurut keterangan di Kramat Beji, dulu sering diadakan pertemuan antara Banten dan Cirebon. Jadi senjata-senjata ini peninggalan tentara Banten waktu melawan VOC. Ditempat semacam ini biasanya diadakan latihan bela diri dan pendidikan agama yang sering disebut Padepokan. Jadi nama Depok kemungkinan besar dari kata Padepokan Beji.
Dengan judul ''Meluruskan Sejarah Depok'', H Baharuddin Ibrahim dkk membantah nama Depok dikaitkan dengan Pajajaran. Dengan alasan nama Depok di masa Pajajaran belum ditemukan, baik dalam naskah lama yang ditulis para penulis Portugis, maupun dalam cerita yang mengisahkan raja-raja Pajajaran. Padepokan baru dikenal setelah masa Islam. Karena tempat yang sama pada masa Hindu disebut Mandala.
Di padepokan inilah guru agama Islam mengajar pada para siswa atau santrinya. Di siang hari mereka bekerja di ladang, dan sore belajar agama. Para siswa ditempatkan pada sebuah asrama, sedangkan gurunya disediakan tempat di kompleks itu juga. Pelajaran yang diberikan selain pendidikan agama, juga seni bela diri (silat), dan kemungkinan latihan kemiliteran. Jadi pada masa Pajajaran, agama Islam telah berkembang di Depok.
Tapi yang jelas, diakui bahwa Depok pada masa Hindu merupakan jalur perniagaan penting. Karena berada di antara Pakuan dan Sunda Kelapa, Depok menjadi tempat persinggahan. Pelabuhan kecil yang ada di Depok ialah Cipanganteur, tukang getek menamakannya kali pengantar. Sekarang tempat tersebut bernama RAU lokasinya di Parung Malela (dekat kuburan Kristen di Depok Lama) dan terletak di tepi Ciliwung.
 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku sudah lima kali mengunjungi Majelis Taklim Habib Ali Alhabsyi di Kwitang, Jakarta Pusat. Kunjungan itu mulai dilakukannya sejak masih aktif di TNI hingga kini setelah dia menjadi presiden. Kunjungan kelimanya berlangsung Ahad (22/4) lalu. Ia bukan presiden pertama yang berkunjung ke pengajian yang diselenggarakan tiap Ahad pagi itu. Sebelumnya, Soeharto telah mengunjungi majelis taklim ini. Kemudian, BJ Habibie dan Abdurahman Wahid (Gus Dur). Bahkan, Soekarno pun pernah ingin berkunjung ke majelis taklim ini. Segala persiapan sudah dilakukan, tapi rupanya masalah keamanan menjadi halangan. Maklum ketika itu suasana politik sedang memanas. Yang datang hanya PM Ir Juanda. Menhankam/Pangab Jenderal AH Nasution ketika berlangsung Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) juga sengaja membawa anggota delegasi menyaksikan kegiatan umat Islam di majelis ini. Membludaknya kaum Muslimin yang mendatangi Majelis Taklim Kwitang ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh pendirinya, Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi. Habib kelahiran Kwitang ini meninggal 20 April 1968 pada usia 98 tahun. Dia dimakamkan di samping Masjid Al Riyad, Kwitang, masjid yang dibangunnya sekitar 80 tahun lalu. Sebelumnya, masjid tersebut hanya sebuah mushala, yang dibangun pada 1.869 atau 138 tahun lalu. Ayah Habib Ali adalah Habib Abdurahman Alhabsji, kelahiran Semarang, yang menikah dengan seorang wanita pribumi -- putri seorang kiai dari Jatinegara, Jaktim. Habib Abdurahman adalah saudara misan pelukis terkenal Raden Saleh Syarif Bustaman. Ia dimakamkan di Cikini, Jakpus, dekat TIM yang kala itu merupakan bagian dari kediaman Raden Saleh. Ketika ayahnya meninggal, Habib Ali masih berusia belasan tahun. Dia kemudian dibesarkan oleh ibunya, Nyai Salmah, seorang Muslimat yang taat. Sesuai pesan almarhum suaminya, Muslimat yang memiliki cita-cita besar ini, menyekolahkan putranya ke Hadramaut (Republik Yaman). Selama lima tahun (1881-1886) Habib Ali berguru pada sejumlah tokoh alim ulama setempat. Sebagai pemuda yang haus akan ilmu, Habib Ali yang masih remaja juga menempuh pendidikan di Kota Suci Makkah. Sekembalinya ke Betawi, sekitar 121 tahun lalu, dia belajar pada Habib Usman bin Yahya, seorang ulama dam penulis lebih dari 20 kitab kuning. Sejumlah kitab karangannya sampai kini masih digunakan di pengajian-pengajian tradisional di Jakarta dan Jabar. Di Masjid Pekojan -- tempat Habib Usman mengajar -- dia berpidato mengutuk kebiadaban Pemerintah Italia yang membantai para pejuang Muslim pimpinan Omar Mukhtar. Peristiwa ini telah difilmkan oleh Hollywood dengan judul 'Lion of the Desert' (Singa Padang Pasir) yang diperankan oleh Anthony Quinn sebagai Omar Mokhtar. Peristiwa yang meminta banyak korban para pejuang Libya saat melawan Italia itu dikutuk keras kaum Muslimin di Jakarta. Habib Ali yang masih berusia 30 tahunan ikut mengutuk peristiwa yang terjadi 85 tahun lalu. Sejumlah tokoh Syarikat Islam seperti HOS Tjokroaminoto dan KH Agus Salim kemudian memelopori pemboikotan produk-produk Italia. Setelah menjadi mubaligh, sambil berdakwah di berbagai tempat Habib Ali juga menjual kain di Pasar Tanah Abang. Ketika itu, banyak orang Betawi yang lebih senang jika anaknya mengaji, karena sekolah-sekolah umum Belanda menanamkan pelajaran Kristen. Menyusul berdirinya perguruan Islam modern pertama Jamiatul Kheir di Pekojan (1905), ia lalu mendirikan perguruan Islam Unwanul Falah di Kwitang (sampimng Masjid Kwitang). Unwanul Falah sekolah Islam dengan sistem kelas. Di samping pendidikan agama juga diajarkan pengetahuan umum. Didekatnya, dia juga membangun sekolah khusus untuk wanita, juga dengan sistem kelas seperti di sekolah-sekolah umum. Di sinilah para murid belajar, yang kemudian menjadi mubaligh andal. Di antara mereka adalah KH Abdullah Syafi'ie, pemimpin Perguruan Islam Assyafiyah dan KH Tohir Rohili, pemimpin perguruan Attahiriyah. Selain itu, juga ada KH Syafei Al-Hazami, yang memimpin belasan majelis taklim di Jakarta. Setelah Habib Ali berusia lanjut, antara murid dan guru tetap terjalin hubungan baik. Bahkan, Habib Ali mempersaudarakan putranya, Habib Muhammad, dengan KH Abdullah Syafi'ie dan KH Tohir Rohili di hadapan ribuan umat di majelis taklimnya. Setelah Habib Ali meninggal dunia, ketiga mubaligh yang telah dipersaudarakan ini masing-masing membangun majelis taklim, yang terus berlangsung hingga saat ini. Ketika KH Abdullah Syafi'ie ingin membangun perguruan Islam, dia meminta Habib Ali ke kediamannya di Kampung Bali, Matraman, Jaksel. ''Insya Allah dari tempat ini timbul kebun surga,'' tutur Habib Ali waktu itu, mengutip hadis Nabi SAW yang menyatakan majelis taklim merupakan kebun surga. Yang menarik, saat Pemilu 1955, Habib Ali cenderung ke partai NU dan KH Abdullah Syafi'ie menjadi juru kampanye Masyumi. Perbedaan pendapat antara murid dan guru tidak menyebabkan hubungan mereka retak. Setelah putranya, Habib Muhammad, meninggal dunia, kini majelis taklim Kwitang ditangani generasi ketiga, Habib Abdurahman Alhabsyi. Apa yang membuat majelis taklim tersebut bisa berumur sangat panjang? Seorang ulama yang mengarang lebih dari 20 judul buku, alm M Asad Shahab (91 tahun) menyatakan Majelis Taklim Habib Ali dapat bertahan selama lebih dari satu abad, karena inti ajaran Islam yang disuguhkannya berdasarkan tauhid, kemurnian iman, solidaritas sosial, serta akhlaqul karimah.
sejarah jakarta Jakarta pada mulanya hanya dikenali sebagai pelabuhan di muara Sungai Ciliwung. Asal-usulnya boleh ditelusuri dari zaman Hindu pada abad ke-5. Orang Eropah pertama yang datang ke Jakarta adalah orang Portugis. Pada abad ke-16, para pendatang Portugis diberi izin mendirikan benteng di Sunda Kelapa.
Asal-usul nama Jakarta bermula pada tanggal 22 Jun dengan penaklukan Sunda Kelapa oleh Fatahillah pada tahun 1527 yang telah menukarkan nama kota tersebut menjadi Jayakarta yang bererti kemenangan.
Orang Belanda datang ke Jayakarta sekitar akhir abad ke-16 dan pada 1619, Syarikat Hindia Timur Belanda yang dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen berjaya menawan Jayakarta dan kemudian mengubah namanya menjadi Batavia. Semasa era Belanda, Batavia berkembang menjadi kota yang besar dan penting.
Penjajahan oleh Jepun bermula pada 1942 dan mereka menukar nama Batavia menjadi Jakarta untuk menambat hati penduduk pada Perang Dunia II. Kota ini juga merupakan tempat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Ogos 1945 dan diduduki Belanda sehingga pengakuan kedaulatan pada 1949.
Budaya
Sebagai ibukota Indonesia, Jakarta menarik pendatang dari seluruh Indonesia, ini disebabkan pertumbuhan yang tidak menyeluruh di pusat dan daerah menyebabkan arus urbanisasi yang besar. Urbanisasi inilah yang membawa berbagai budaya masuk ke Jakarta. Suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain Suku Betawi, Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan Tionghoa. Budaya lain yang juga khas di Jakarta adalah bahasa gaul yang dipakai oleh penduduk yang berusia remaja. Beberapa contoh penggunaan bahasa ini adalah: Please donk ah! dan So what gitu loh!. Budaya Betawi sebagai budaya utama umpama disingkirkan oleh budaya lain, baik dari Indonesia mahupun budaya Barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, dibina cagar budaya di Situ Babakan.
[sunting] Muzik
Seperti halnya budaya dan etnik di Jakarta yang merupakan perpaduan dari berbagai macam budaya dan etnik baik dari seluruh wilayah di Indonesia maupun dari luar Indonesia seperti halnya Belanda, China, Portugis, Arab dan India, muzik di Jakarta menggambarkan perpaduan-perpaduan tersebut baik muzik tradisional mahupun moden. Bahkan sehingga kini, Jakarta masih dianggap pusat bagi perkembangan muzik di Indonesia. Untuk muzik tradisional di Jakarta, seperti tanjidor dan gambang kromong, terdapat pengaruh baik etnik dari luar Jakarta Sunda seperti penggunaan rebab dan terompet tradisional. Kemudian pengaruh asing seperti halnya Trombone dan Gitar dari Eropah dan beberapa irama muzik tradisional Cina.
[sunting] Tarian Tarian Topeng, salah satu khazanah budaya di Indonesia Tarian Topeng, salah satu khazanah budaya di Indonesia
Seperti halnya dalam budaya dan muzik, seni tari di Jakarta merupakan perpaduan antara unsur-unsur budaya masyarakat yang ada di dalamnya. Pada awalnya, seni tari di Jakarta memiliki pengaruh Sunda dan Cina seperti tariannya yang memiliki corak tari Jaipong dengan kostum penari khas pemain Opera Beijing. Namun Jakarta boleh dikatakan daerah yang paling dinamis. Selain seni tari lama muncul juga seni tari dengan gaya dan koreografi yang dinamik.
[sunting] Cerita rakyat
Cerita rakyat yang berkembang di DKI Jakarta selain cerita rakyat yang sudah terkenal seperti Si Pitung juga dikenali cerita rakyat lain seperti serial Jagoan Tulen yang mengisahkan jawara-jawara betawi baik dalam perjuangan mahupun kehidupannya yang terkenal "keras". Selain mengisahkan juara atau pendekar dunia persilatan, juga terkenal cerita Nyai Dasima yang menggambarkan kehidupan zaman penjajah.
[sunting] Demografi
Jumlah penduduk di Jakarta sekitar 8,792,000 orang (2004) namun pada siang hari, jumlah tersebut akan bertambah seiring datangnya para pekerja dari kota satelit seperti Bekasi dan Depok. Bahasa yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia. Bahasa daerah juga digunakan oleh orang-orang yang satu suku dan kerana di Jakarta terdapat berbagai suku, bahasa Indonesia lah yang paling sering dipakai. Selain itu, muncul juga bahasa gaul yang tumbuh di kalangan kanak-kanak dengan kata-kata yang terkadang diambil dari bahasa asing. Masjid Istiqlal di Jakarta, Indonesia Masjid Istiqlal di Jakarta, Indonesia
Agama yang dianuti di DKI Jakarta sangat pelbagai termasuk empat agama yang diakui pemerintah Indonesia (Islam, Kristian, Hinduisme dan Buddha). Tempat peribadatan agama tersebut juga tersedia di Jakarta contohnya:
* Masjid Istiqlal * Masjid Agung Al-Azhar * Masjid Sunda Kelapa
Maru nda Kawasan Marunda sekarang menjadi sebuah kelurahan, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara. Namanya diambil dari nama sungai yang mengalir di situ, yaitu Kali Marunda. Marunda adalah sebutan setempat bagi semacam pohon mangga yang aroma buahnya wangi menyengat, biasa disebut lembem atau kebembem. Nama ilmiahnya: Mangifera Laurina BI (Fillet 1888:210). Nama kawasan itu mulai disebut – sebut pada pertengahan di tepi sebelah barat Kali Marunda. Kubu tersebut pada tahun 1664 dipindahkan ke tepi sebelah barat Kali Bekasi, dikenal dengan sebutan Wagt Barangcassi. Dengan keputusan pimpinan VOC di Batavia tanggal 19 September 1747, ditetapkan bahwa di Marunda dibangun lagi kubu pertahanan yang pengurusannya diserahkan kepada Justinus Vinck, Tuan tanah yang antara lain memiliki Pasar Senen, yang sangat berkepentingan untuk menjaga rumah peristirahatannya (Landhuis Cilincing) berikut tanah – tanah di sekitarnya. (De Haan 1911, (II):408).
Matram an Dewasa ini Matraman menjadi nama sebuah kecamatan, Kecamatan Matraman, Kotamadya Jakarta Timur. Mengenai asal – usul namanya, sampai sekarang belum diperoleh keterangan yang cukup memuaskan. Pada umumnya memperkirakan kawasan itu dahulu dijadikan perkubuan oleh pasukan Mataram dalam rangka penyerangan Kota Batavia, melalui darat. Tidak mustahil kalau di kawasan itu dibangun kubu – kubu pasukan dari Sumedang dan Ukur (Bandung). Pada waktu Mataram menyerang Batavia, Ukur dan Sumedang merupakan bagian dari Kesultanan Mataram, dan memang diberitakan ikut berpartisipasi. Prof. Dr. Joko Soekiman dalam disertasinya yang kemudian diterbitkan dengan judul Kebudayaan Indis, menyatakan bahwa. “Di JakartaMatraman merupakan tempat tinggal Tuan Matterman “ (Soekiman 2000:217) tanpa keterangan lebih lanjut mengenai sumbernya. Dugaan lainnya, nama tersebut adalah warisan pengikut Pangeran Diponegoro, sebagaimana ditulis oleh Mohammad Sulhi dalam Majalah Intisari Juni 2002, dengan Judul Betawi yang Tercecer di Jalan. Dugaan ini mungkin melesat, karena jauh sebelum Perang Diponegoro, pada tahun 1789 Matraman sudah disebut – sebut sebagai milik tuan tanah David Johannes Smith (De Haan 1910, (I):64). Menurut F. de Haan dalam bukunya yang berjudul Oud Batavia, kawasan itu diberikan kepada orang – orang Jawa dan Mataram ( De Haan 1935:67) mungkin setelah Mataram berada di bawah pengaruh Kompeni, menyusul ditandatanganinya perjanjian antara Mataram dengan VOC tertanggal 28 Februari 1677 (Colenbrander 1925:173). Mungkin orang – orang Mataram yang ditempatkan dikawasan itu, adalah mereka yang pada pertengahan abad ketujuhbelas diberitakan berada disekitar Muaraberes sampai di kawasan Karawang (De Haan 1910, 1:262). Di antara mereka mungkin ada yang mempunyai keahlian, sebagai pengrajin barang – barang dari perunggu, atau gangsa, mereka membuka usaha di tempat yang kini dikenal dengan nama Pegangsaan.
Menteng Merupakan nama daerah yang ada di selatan kota Batavia. Semula daerah ini merupakan hutan dan banyak ditumbuhi pohon buah – buahan. Karena banyaknya pohon Menteng yang tumbuh di daerah ini, maka masyarakat mengaitkan nama tempat ini dengan Kelurahan dan sekaligus juga nama Kecamatan yang ada di wilayah Jakarta Pusat. Sejak tahun 1810 wilayah ini telah mulai dibuka oleh Gubernur Jenderal Daendels untuk daerah pengembangan kota Batavia. Kemudian pada tahun 1912 tanah yang ada disekitar kampung Menteng ini dibeli oleh pemerintah Belanda untuk dijadikan perumahan bagi pegawai pemerintah Hindia Belanda. Sampai sekarang kita dapat menyaksikan peninggalan Belanda di perumahan Menteng. Rumah – rumah ini dibangun dengan konsep rumah Belanda yang dikombinasikan dengan gaya rumah Jawa atau disebut juga dengan konsep Indis ( percampuran gaya rumah Belanda dengan gaya rumah Jawa). Wilayah Menteng dalam perkembangannya dipertegas lagi dengan membagi – bagi nama Menteng, sehingga terdapat nama kampung lebih kecil didalam kampung yang luas, ada nama Menteng atas, Menteng Dalam, Menteng Pulo dan sebagainya.
Paal Meriam Merupakan nama tempat yang terletak di antara perapatan Matraman dengan Jatinegara. Asal usul nama tempat ini berasal dari suatu peristiwa sejarah yang terjadi sekitar tahun 1813. Pada waktu itu pasukan artileri meriam Inggris mengambil tempat di daerah ini untuk posisi meriam yang siap ditembakkan. Pasukan meriam Inggris disiapkan didaerah ini untuk melakukan penyerangan ke kota Batavia. Peristiwa tersebut sangat berkesan bagi masyarakat sekitar daerah itu, sehingga menyebut daerah ini dengan sebutan tempat paal meriam (tempat meriam disiapkan). Cerita lain menyebutkan bahwa pada waktu Gubernur Jenderal Daendels membuka jalan yang disebut dengan jalan trans Jawa dari Anyer (Banten) ke Panarukan (Jawa Timur), daerah paal meriam ini dipasang patok jalan yang terbuat dari meriam yang sudah tidak terpakai. Masyarakat setempat sering melihat meriam tersebut sebagai patok jalan atau disebut juga paal jalan yang terbuat dari meriam, maka daerah itu disebut dengan paal meriam.
Pajongkoran Wilayah Kelurahan Koja Selatan, Kecamatan Tanjungpriuk, dan Wilayah Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara, sampai akhir tahun enampuluhan abad ke-20 lalu dikenal dengan sebutan Pajongkoran. Entah apa sebabnya nama itu dihilangkan dan peta – peta yang terbit kemudian. Kawasan tersebut dikenal dengan nama Pajongkoran, karena dari tahun 1676 sampai tahun 1682 dikuasai oleh Kapten Jonker, seorang kepala pasukan orang- orang Maluku yang mengabdi kepada VOC. Kata Jonker bukanlah nama diri, melainkan gelaran, yaitu padanaan dari tamaela, gelaran kehormatan di Ambon pada jaman itu. Pada sebuah akte tertanggal 22 Nopember 1664, namanya ditulis JonckerJouwa de Manipa (De Haan 1919:228 – 229). Tanah seluas itu diberikan sebagai hadiah bagi jasa – jasanyadi berbagai medan perang, seperti di Timor, Srilangka di bawah Van Goens di Sumatera Barat di bawah Poleman, di Sulawesi Selatan di bawah Speelman, di Jawa Timur pada waktu Kompeni “membantu” Mataram memadamkan pemberontakan Pangeran Trunojoyo, di Palembang dan terakhir pada peperangan di Banten, waktu Kompeni “membantu” Sultan Haji melawan ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa (De Haan 1935:372). Pada tahun 1682 (Poespo Negoro 1984, (III):71). Menjelang akhir hayatnya, Jonker merasa disia – siakan disamping mendapat tekanan – tekanan dari pejabat – pejabat Belanda yang tidak menyenanginya, seperti Mayor Isaac de Saint Martin, yang memimpin Kompeni ke Banten, sebelum pasukan yang dipimpin Jonker terlibat dalam peperangan itu. Pada tahun1689, dengan tuduhan akan berbuat makar, tempat kediamannya diserbu, Jonker sendiri menemui ajalnya dengan tragis.
Mei 22nd, 2007 Menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW, Jakarta Islamic Centre di Kramat Tunggak, Tanjung Priok, 27 Maret 2007, mengadakan Seminar Genealogi Intelektual Ulama Betawi. Saya diminta menyampaikan materi tentang pemikiran dan karya ulama Betawi dari abad ke-19 sampai penjajahan Jepang. Thomas Stamford Raffles yang berkuasa pada masa pemerintahan Inggris di Indonesia (1811-1816) pernah memuji kegigihan dakwah para ulama Betawi. Raffles selama lima tahun di Nusantara lebih banyak tinggal di Batavia, ibukota Hindia Belanda. Dia tinggal di Rijswijk (kini Jl Segara), di gedung yang sekarang menjadi Bina Graha (sebelah Istana Negara). Dulu, gedung ini pernah dinamai Raffles House. Dalam salah satu pidatonya pada peringatan ulang tahun Bataviasch Genootschap — lembaga kesenian yang para anggotanya beragama Kristen — Raffles meminta mereka belajar pada keberhasilan para ulama dalam menyebarkan Islam. Terutama cara-cara pendekatan mereka dalam mengajarkan Alquran yang kala itu menjadi bacaan dan pelajaran di kampung-kampung Betawi. Tampaknya, seperti juga Portugis dan Belanda, penguasa Inggris ini khawatir terhadap perkembangan Islam, hingga ia meminta organisasi Nasrani ini mencari jalan keluar mengimbangi dakwah para mubaligh. ”Jika kesuksesan para mubaligh itu dibiarkan, mungkin dapat menimbulkan hal-hal yang berbahaya bagi kelangsungan penjajahan,” kata Letnan Jenderal Gubernur Inggris itu. Seperti layaknya meneruskan perang salib, sekalipun tidak sekeras Portugis, Belanda juga menunjukkan kebencian terhadap Islam, termasuk terhadap para mubaligh dan kiai — figur yang dihormati di masa penjajahan. Menurut Risalah Rabithah Alawiyah, pada tahun 1925 pemerintah kolonial mengeluarkan peraturan yang membatasi ruang gerak kegiatan dakwah dan pendidikan. Di antaranya, tidak semua orang dapat memberikan pelajaran agama atau mengaji. Kebijakan ini — sekalipun oleh para ulama Betawi tidak diindahkan — lantaran sejak lahirnya Jamiat Kheir pada 1905 banyak lembaga pendidikan Islam bermunculan. Sejak zaman VOC, kedatangan Belanda di Indonesia sudah bermotif ekonomi, politik dan agama. Dalam hak actroi VOC terdapat suatu pasal berbunyi, ”Badan ini harus berniaga di Indonesia dan bila perlu boleh berperang. Dan, harus memperhatikan agama Kristen dengan mendirikan sekolah.” Karena tekanan yang demikian keras dari penjajah, HAMKA yang selama bertahun-tahun tinggal di perkampungan Betawi mengemukakan kekagumannya terhadap keteguhan orang Betawi memeluk Islam. Menurut HAMKA, antara penjajah dan anak negeri bagaikan minyak dan air — meskipun keduanya dimasukkan ka dalam satu botol tapi tidak akan bisa menyatu. Menurut HAMKA, kalau para perantau yang datang ke Betawi banyak meneruskan pendidikannya ke Belanda atau negara Eropa lainnya, orang Betawi belajar agama di Arab Saudi. Kemudian di antara mereka banyak yang berkedudukan cukup baik. Di antara mereka terdapat Syaikh Junaid Al-Betawi, kelahiran Pekojan, Jakarta Barat. Pekojan, pada abad ke-19 dan 20, banyak menghasilkan ulama terkemuka. Pada tahun 1925, ketika Raja Ali takluk kepada dinasti Saudi, Raja Suud meminta supaya orang-orang besar, para tokoh ulama Betawi, dibebaskan. Pada tahun 1939 jamaah haji Indonesia tidak bisa kembali ke Tanah Air, karena zona laut pada awal perang dunia ke-II itu dinyatakan sebagai daerah peperangan. Raja Suud memberikan izin kepada para jamaah Indonesia untuk bermukim di negaranya. Pekojan, di Jakarta Barat, tidak pelak lagi merupakan pusat intelektual Islam. Syaikh Junaid Al-Betawi, misalnya, dilahirkan di kampung Arab ini. Ridwan Saidi, yang ikut memberikan ceramah, menyatakan, Syekh Nawasi dan Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi adalah murid Syaikh Junaid Al-Betawi. Pekojan juga melahirkan banyak ulama. Antara lain, mualim Roji’un, dan Kyai Syamun. Termasuk guru Mansyur dari Kampung Lima yang pada masa revolusi fisik masjidnya ditembaki NICA, karena memasang bendera merah putih. Bahkan guru Mansyur berseru kepada penduduk, ”Betawi, rempug.” Lahir di Pekojan pada tahun 1882, Habib Usman Bin Yahya merupakan penulis sangat produktif. Tidak kurang dari 47 kitab karangannya, sebagian besar disimpan di Arsip Nasional. Dia kemudian pindah ke Jatipetamburan, Tanah Abang. Sebelum memiliki percetakan, karangan-karangannya dengan tulisan tangan ditempelkan di Masjid Jatipetamburan. Jamaah harus mengantri untuk membacanya. Ulama ini makin produktif menulis setelah memiliki percetakan. Tapi, karangannya harus lebih dulu diserahkan kepada pemerintah kolonial sebelum dicetak. Sebelum wafat, Habib Usman berpesan agar di makamnya tidak dibuat kubah. Dia juga menolak diadakan haul untuk memperingati kematiannya. Di antara murid Habib Usman adalah Habib Ali Alhabsji (1870-1966), ulama kelahiran Kwitang, Jakarta Pusat. Ayahnya, Habib Abdurahman, adalah sepupu pelukis kenamaan Raden Saleh Syarif Bustaman. Ada beberapa ulama Betawi terkenal yang menjadi murid Habib Ali, seperti KH Abdullah Syafei, KH Tohir Rohili, dan KH Syafei Al-Hazami. Dia, pada tahun 1911, mendirikan madrasah Unwanul Falah di Kwitang (di samping Masjid Al-Riyad). Pada masa revolusi fisik banyak ulama Betawi yang ikut mengomandoi rakyat agar mempertahankan kemerdekaan — sebagai bagian dari jihad fi sabillah. Seperti KH Nur Ali dari Bekasi, Guru Mansyur (Jembatan Lima), KH Rahmatullah Sidik (Kebayoran), dan Muhammad Ali Alhamnidi (Matraman). Ada ratusan buku karangan ulama Betawi yang ditulis dalam Arab Melayu.
|