SA'ABUN'S SITE

sa'abun's posts with tag: jakarta

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag jakarta
Blog Entry Jalan Panjang Majelis Taklim KwitangJan 24, '08 4:52 PM
for everyone
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku sudah lima kali mengunjungi Majelis Taklim Habib Ali Alhabsyi di Kwitang, Jakarta Pusat. Kunjungan itu mulai dilakukannya sejak masih aktif di TNI hingga kini setelah dia menjadi presiden. Kunjungan kelimanya berlangsung Ahad (22/4) lalu.

Ia bukan presiden pertama yang berkunjung ke pengajian yang diselenggarakan tiap Ahad pagi itu. Sebelumnya, Soeharto telah mengunjungi majelis taklim ini. Kemudian, BJ Habibie dan Abdurahman Wahid (Gus Dur). Bahkan, Soekarno pun pernah ingin berkunjung ke majelis taklim ini. Segala persiapan sudah dilakukan, tapi rupanya masalah keamanan menjadi halangan. Maklum ketika itu suasana politik sedang memanas. Yang datang hanya PM Ir Juanda. Menhankam/Pangab Jenderal AH Nasution ketika berlangsung Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) juga sengaja membawa anggota delegasi menyaksikan kegiatan umat Islam di majelis ini.

Membludaknya kaum Muslimin yang mendatangi Majelis Taklim Kwitang ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh pendirinya, Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi. Habib kelahiran Kwitang ini meninggal 20 April 1968 pada usia 98 tahun. Dia dimakamkan di samping Masjid Al Riyad, Kwitang, masjid yang dibangunnya sekitar 80 tahun lalu. Sebelumnya, masjid tersebut hanya sebuah mushala, yang dibangun pada 1.869 atau 138 tahun lalu.

Ayah Habib Ali adalah Habib Abdurahman Alhabsji, kelahiran Semarang, yang menikah dengan seorang wanita pribumi -- putri seorang kiai dari Jatinegara, Jaktim. Habib Abdurahman adalah saudara misan pelukis terkenal Raden Saleh Syarif Bustaman. Ia dimakamkan di Cikini, Jakpus, dekat TIM yang kala itu merupakan bagian dari kediaman Raden Saleh.

Ketika ayahnya meninggal, Habib Ali masih berusia belasan tahun. Dia kemudian dibesarkan oleh ibunya, Nyai Salmah, seorang Muslimat yang taat. Sesuai pesan almarhum suaminya, Muslimat yang memiliki cita-cita besar ini, menyekolahkan putranya ke Hadramaut (Republik Yaman). Selama lima tahun (1881-1886) Habib Ali berguru pada sejumlah tokoh alim ulama setempat. Sebagai pemuda yang haus akan ilmu, Habib Ali yang masih remaja juga menempuh pendidikan di Kota Suci Makkah. Sekembalinya ke Betawi, sekitar 121 tahun lalu, dia belajar pada Habib Usman bin Yahya, seorang ulama dam penulis lebih dari 20 kitab kuning. Sejumlah kitab karangannya sampai kini masih digunakan di pengajian-pengajian tradisional di Jakarta dan Jabar.

Di Masjid Pekojan -- tempat Habib Usman mengajar -- dia berpidato mengutuk kebiadaban Pemerintah Italia yang membantai para pejuang Muslim pimpinan Omar Mukhtar. Peristiwa ini telah difilmkan oleh Hollywood dengan judul 'Lion of the Desert' (Singa Padang Pasir) yang diperankan oleh Anthony Quinn sebagai Omar Mokhtar.

Peristiwa yang meminta banyak korban para pejuang Libya saat melawan Italia itu dikutuk keras kaum Muslimin di Jakarta. Habib Ali yang masih berusia 30 tahunan ikut mengutuk peristiwa yang terjadi 85 tahun lalu. Sejumlah tokoh Syarikat Islam seperti HOS Tjokroaminoto dan KH Agus Salim kemudian memelopori pemboikotan produk-produk Italia.

Setelah menjadi mubaligh, sambil berdakwah di berbagai tempat Habib Ali juga menjual kain di Pasar Tanah Abang. Ketika itu, banyak orang Betawi yang lebih senang jika anaknya mengaji, karena sekolah-sekolah umum Belanda menanamkan pelajaran Kristen. Menyusul berdirinya perguruan Islam modern pertama Jamiatul Kheir di Pekojan (1905), ia lalu mendirikan perguruan Islam Unwanul Falah di Kwitang (sampimng Masjid Kwitang). Unwanul Falah sekolah Islam dengan sistem kelas. Di samping pendidikan agama juga diajarkan pengetahuan umum. Didekatnya, dia juga membangun sekolah khusus untuk wanita, juga dengan sistem kelas seperti di sekolah-sekolah umum.

Di sinilah para murid belajar, yang kemudian menjadi mubaligh andal. Di antara mereka adalah KH Abdullah Syafi'ie, pemimpin Perguruan Islam Assyafiyah dan KH Tohir Rohili, pemimpin perguruan Attahiriyah. Selain itu, juga ada KH Syafei Al-Hazami, yang memimpin belasan majelis taklim di Jakarta.

Setelah Habib Ali berusia lanjut, antara murid dan guru tetap terjalin hubungan baik. Bahkan, Habib Ali mempersaudarakan putranya, Habib Muhammad, dengan KH Abdullah Syafi'ie dan KH Tohir Rohili di hadapan ribuan umat di majelis taklimnya. Setelah Habib Ali meninggal dunia, ketiga mubaligh yang telah dipersaudarakan ini masing-masing membangun majelis taklim, yang terus berlangsung hingga saat ini.

Ketika KH Abdullah Syafi'ie ingin membangun perguruan Islam, dia meminta Habib Ali ke kediamannya di Kampung Bali, Matraman, Jaksel. ''Insya Allah dari tempat ini timbul kebun surga,'' tutur Habib Ali waktu itu, mengutip hadis Nabi SAW yang menyatakan majelis taklim merupakan kebun surga.

Yang menarik, saat Pemilu 1955, Habib Ali cenderung ke partai NU dan KH Abdullah Syafi'ie menjadi juru kampanye Masyumi. Perbedaan pendapat antara murid dan guru tidak menyebabkan hubungan mereka retak. Setelah putranya, Habib Muhammad, meninggal dunia, kini majelis taklim Kwitang ditangani generasi ketiga, Habib Abdurahman Alhabsyi.

Apa yang membuat majelis taklim tersebut bisa berumur sangat panjang? Seorang ulama yang mengarang lebih dari 20 judul buku, alm M Asad Shahab (91 tahun) menyatakan Majelis Taklim Habib Ali dapat bertahan selama lebih dari satu abad, karena inti ajaran Islam yang disuguhkannya berdasarkan tauhid, kemurnian iman, solidaritas sosial, serta akhlaqul karimah.

Blog EntrySEJARAH ATAU RIWAYAT PERKAMPUNGAN BETAWIEJan 15, '08 7:06 PM
for everyone
Marunda
Kawasan Marunda sekarang menjadi sebuah kelurahan, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara. Namanya diambil dari nama sungai yang mengalir di situ, yaitu Kali Marunda.
Marunda adalah sebutan setempat bagi semacam pohon mangga yang aroma buahnya wangi menyengat, biasa disebut lembem atau kebembem. Nama ilmiahnya: Mangifera Laurina BI (Fillet 1888:210).
Nama kawasan itu mulai disebut – sebut pada pertengahan di tepi sebelah barat Kali Marunda. Kubu tersebut pada tahun 1664 dipindahkan ke tepi sebelah barat Kali Bekasi, dikenal dengan sebutan Wagt Barangcassi. Dengan keputusan pimpinan VOC di Batavia tanggal 19 September 1747, ditetapkan bahwa di Marunda dibangun lagi kubu pertahanan yang pengurusannya diserahkan kepada Justinus Vinck, Tuan tanah yang antara lain memiliki Pasar Senen, yang sangat berkepentingan untuk menjaga rumah peristirahatannya (Landhuis Cilincing) berikut tanah – tanah di sekitarnya. (De Haan 1911, (II):408).

Matraman
Dewasa ini Matraman menjadi nama sebuah kecamatan, Kecamatan Matraman, Kotamadya Jakarta Timur.
Mengenai asal – usul namanya, sampai sekarang belum diperoleh keterangan yang cukup memuaskan. Pada umumnya memperkirakan kawasan itu dahulu dijadikan perkubuan oleh pasukan Mataram dalam rangka penyerangan Kota Batavia, melalui darat. Tidak mustahil kalau di kawasan itu dibangun kubu – kubu pasukan dari Sumedang dan Ukur (Bandung). Pada waktu Mataram menyerang Batavia, Ukur dan Sumedang merupakan bagian dari Kesultanan Mataram, dan memang diberitakan ikut berpartisipasi.
Prof. Dr. Joko Soekiman dalam disertasinya yang kemudian diterbitkan dengan judul Kebudayaan Indis, menyatakan bahwa. “Di JakartaMatraman merupakan tempat tinggal Tuan Matterman “ (Soekiman 2000:217) tanpa keterangan lebih lanjut mengenai sumbernya.
Dugaan lainnya, nama tersebut adalah warisan pengikut Pangeran Diponegoro, sebagaimana ditulis oleh Mohammad Sulhi dalam Majalah Intisari Juni 2002, dengan Judul Betawi yang Tercecer di Jalan. Dugaan ini mungkin melesat, karena jauh sebelum Perang Diponegoro, pada tahun 1789 Matraman sudah disebut – sebut sebagai milik tuan tanah David Johannes Smith (De Haan 1910, (I):64). Menurut F. de Haan dalam bukunya yang berjudul Oud Batavia, kawasan itu diberikan kepada orang – orang Jawa dan Mataram ( De Haan 1935:67) mungkin setelah Mataram berada di bawah pengaruh Kompeni, menyusul ditandatanganinya perjanjian antara Mataram dengan VOC tertanggal 28 Februari 1677 (Colenbrander 1925:173). Mungkin orang – orang Mataram yang ditempatkan dikawasan itu, adalah mereka yang pada pertengahan abad ketujuhbelas diberitakan berada disekitar Muaraberes sampai di kawasan Karawang (De Haan 1910, 1:262). Di antara mereka mungkin ada yang mempunyai keahlian, sebagai pengrajin barang – barang dari perunggu, atau gangsa, mereka membuka usaha di tempat yang kini dikenal dengan nama Pegangsaan.

Menteng
Merupakan nama daerah yang ada di selatan kota Batavia. Semula daerah ini merupakan hutan dan banyak ditumbuhi pohon buah – buahan. Karena banyaknya pohon Menteng yang tumbuh di daerah ini, maka masyarakat mengaitkan nama tempat ini dengan Kelurahan dan sekaligus juga nama Kecamatan yang ada di wilayah Jakarta Pusat.
Sejak tahun 1810 wilayah ini telah mulai dibuka oleh Gubernur Jenderal Daendels untuk daerah pengembangan kota Batavia. Kemudian pada tahun 1912 tanah yang ada disekitar kampung Menteng ini dibeli oleh pemerintah Belanda untuk dijadikan perumahan bagi pegawai pemerintah Hindia Belanda.
Sampai sekarang kita dapat menyaksikan peninggalan Belanda di perumahan Menteng. Rumah – rumah ini dibangun dengan konsep rumah Belanda yang dikombinasikan dengan gaya rumah Jawa atau disebut juga dengan konsep Indis ( percampuran gaya rumah Belanda dengan gaya rumah Jawa).
Wilayah Menteng dalam perkembangannya dipertegas lagi dengan membagi – bagi nama Menteng, sehingga terdapat nama kampung lebih kecil didalam kampung yang luas, ada nama Menteng atas, Menteng Dalam, Menteng Pulo dan sebagainya.

Paal Meriam
Merupakan nama tempat yang terletak di antara perapatan Matraman dengan Jatinegara. Asal usul nama tempat ini berasal dari suatu peristiwa sejarah yang terjadi sekitar tahun 1813. Pada waktu itu pasukan artileri meriam Inggris mengambil tempat di daerah ini untuk posisi meriam yang siap ditembakkan. Pasukan meriam Inggris disiapkan didaerah ini untuk melakukan penyerangan ke kota Batavia. Peristiwa tersebut sangat berkesan bagi masyarakat sekitar daerah itu, sehingga menyebut daerah ini dengan sebutan tempat paal meriam (tempat meriam disiapkan).
Cerita lain menyebutkan bahwa pada waktu Gubernur Jenderal Daendels membuka jalan yang disebut dengan jalan trans Jawa dari Anyer (Banten) ke Panarukan (Jawa Timur), daerah paal meriam ini dipasang patok jalan yang terbuat dari meriam yang sudah tidak terpakai. Masyarakat setempat sering melihat meriam tersebut sebagai patok jalan atau disebut juga paal jalan yang terbuat dari meriam, maka daerah itu disebut dengan paal meriam.

Pajongkoran
Wilayah Kelurahan Koja Selatan, Kecamatan Tanjungpriuk, dan Wilayah Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara, sampai akhir tahun enampuluhan abad ke-20 lalu dikenal dengan sebutan Pajongkoran. Entah apa sebabnya nama itu dihilangkan dan peta – peta yang terbit kemudian.
Kawasan tersebut dikenal dengan nama Pajongkoran, karena dari tahun 1676 sampai tahun 1682 dikuasai oleh Kapten Jonker, seorang kepala pasukan orang- orang Maluku yang mengabdi kepada VOC.
Kata Jonker bukanlah nama diri, melainkan gelaran, yaitu padanaan dari tamaela, gelaran kehormatan di Ambon pada jaman itu. Pada sebuah akte tertanggal 22 Nopember 1664, namanya ditulis JonckerJouwa de Manipa (De Haan 1919:228 – 229).
Tanah seluas itu diberikan sebagai hadiah bagi jasa – jasanyadi berbagai medan perang, seperti di Timor, Srilangka di bawah Van Goens di Sumatera Barat di bawah Poleman, di Sulawesi Selatan di bawah Speelman, di Jawa Timur pada waktu Kompeni “membantu” Mataram memadamkan pemberontakan Pangeran Trunojoyo, di Palembang dan terakhir pada peperangan di Banten, waktu Kompeni “membantu” Sultan Haji melawan ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa (De Haan 1935:372). Pada tahun 1682 (Poespo Negoro 1984, (III):71).
Menjelang akhir hayatnya, Jonker merasa disia – siakan disamping mendapat tekanan – tekanan dari pejabat – pejabat Belanda yang tidak menyenanginya, seperti Mayor Isaac de Saint Martin, yang memimpin Kompeni ke Banten, sebelum pasukan yang dipimpin Jonker terlibat dalam peperangan itu. Pada tahun1689, dengan tuduhan akan berbuat makar, tempat kediamannya diserbu, Jonker sendiri menemui ajalnya dengan tragis.
Reply With Quote


Eventpalang pintu Jan 14, '08 10:33 AM
for everyone
Start:     Feb 3, '08 07:00a
Location:     chitos, cilandak jakarta selatan
acara palang pintu
atas nama : robert

Eventpalang pintu Jan 14, '08 10:32 AM
for everyone
Start:     Feb 3, '08 07:00a
acara palang pintu
atas nama : robert

Photo AlbumPALANG PINTU ATAU PAREBAN (16 photos)Nov 3, '07 6:35 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Palang pintu yang dilaksanakan di taman mini indonesia indah tepatnya digedung atau padepokan pencak silat

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help
Template design Copyright © 2005 Jeff Miller